Posts

Showing posts with the label SEJARAH

Rijsttafel, Budaya Makan Modern Pertama di Nusantara

Image
Buku ini diambil dari skripsi si penulis Fadly Rahman, dijurusan Sejarah Universitas Padjajaran. Rijsstafel secara harafiah artinya meja nasi adalah budaya 'makan nasi' orang-orang Belanda semasa di Hindia Belanda (Indonesia) dengan segambreng lauk pauk di satu meja bundar yg disajikan bahkan sampai puluhan pelayan Pribumi hanya untuk empat orang. Awalnya budaya Rijsttafel ini adalah akulturasi antara kebudayaan Belanda (setelah di Hindia/Indonesia) dari segi kebiasaannya dan budaya Nusantara/Indonesia dari segi komposisi makanan utamanya. Di akhir abad ke-19, semakin banyak orang Belanda yang datang kesini untuk bekerja sebagai pegawai di pemerintahan Kolonial Belanda. Kebanyakan tidak membawa serta istri mereka. Hnya para Pejabat Tinggi saja seperti Residen atau Asisten Residen yang diizinkan membawa istrinya dari Negeri Belanda. Hal tersebut membuat para pegawai rendahan lainnya mengambil perempuan Pribumi untuk dijadikan istri (yang tidak nikahi secara resmi) ...

Sinopsis dan Review Film Bumi Manusia (2019)

Image
Bumi Manusia merupakan film garapan sutradara Hanung Bramantyo dan diprofuksi oleh Falcon Pictures ini diangkat dari novel sastra fiksi karya besar dari Pramoedya Ananta Toer. Film ini masih seputar tentang zaman kolonial, tentang bagaimana nasib bangsa Indonesia di Hindia Belanda yang dalam film ini sering sekali disebut sebagai pribumi (ingat, bicara pribumi dalam konteks era penjajahan bukan berarti rasis!) yang pada saat itu mulai mengenal pendidikan sebagai bagian dari Politik Etis balas budi Belanda setelah tanam paksa dicabut. Kaum pribumi priyai pada saat itu jawa khususnya baru mengenal apa itu istilah modern, kemajuan dan teknologi. Terbius bujuk rayu pengetahuan dan pemikiran Eropa. Sampai terlena lupa jatidirinya sendiri sebagai pribumi. Bangsa yang berada di bawah Belanda dan Indo yang menjadi tamu di negeri moyangnya sendiri. Tapi dibentuk untuk mengagumi bangsa, pendidikan dan gaya hidup Eropa. Pemeran utamanya adalah Iqbaal Ramadhan sebagai Minke seorang pribum...

Film Max Havelaar (1976)

Image
Max Havelaar: or The Coffee Auctions of the Dutch Trading Company (judul aslinya dalam Bahasa Belanda:  Max Havelaar, of de koffie-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappy ) merupakan sebuah novel yang diterbitkan tahun 1860 oleh Eduard Douwes Dekker seorang pegawai Pemerintahan Kolonial Belanda di Hindia Belanda yang juga memiliki nama pena Multatuli (ga tau dari bahasa mana) yang artinya 'saya sudah banyak menderita'. Novel tersebut kemudian dingkat menjadi sebuah film pada tahun 1976 dengan judul yang sama oleh Peter Faber sebagai sutradara sekaligus pemeran utama. Perlu dicatat disini bahwa Eduard Douwes Dekker yang hidup ditahun (1820-1887) berbeda dengan Ernest Douwes Dekker yang hidup ditahun (1879-1950), meskipun keduanya sama-sama orang Belanda yang menaruh simpati kepada bangsa Indonesia selama zaman penjajahan Belanda. Novel Max Havelaar merupakan karya yang fenomenal, semula ia menjadi inspirasi bagi gerakan sosial, mempengaruhi opini publik dan kriti...

Napak Tilas Proklamasi ke Rengasdengklok

Image
Kamis 15 Agustus 2019, gue ikut lagi kegiatannya Komunitas Historia Indonesia (KHI). Kali ini karena mendekati peringatan hari kemerdekaan Indonesia, temanya juga seputar 17an yaitu mengunjungi rumah tempat ‘diculiknya’ Bung Karno dan Bung Hatta yang terkenal dalam peristiwa Rengasdengklok. Acara dimulai dari jam 7 pagi, berkumpul di Museum Joang 45. Ternyata acara ini acara dari Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. KHI menjadi bagian dari jalannya acara itu. Sebagian besar pesertanya adalah dari guru-guru SMP dan SMA se-Jakarta, khususnya para guru sejarah. Setelah registrasi, tepat pukul 08.00 rombongan yang terdiri dari 5 bis (4 bis besar dan 1 bis kecil), berangkat menuju Rengasdengklok melalui jalan tol. Perjalanan ditempuh dalam waktu 2 jam. Gue berada di bis 1 bersama sebagian teman-teman dari KHI dan sisanya lagi ada di bis 2. Beruntung bagi yang berada di bis 1 karena Kang Asep Kambali, pendiri KHI yang sekaligus menjadi...

Resensi Film Ali & Nino di Europe on Screen 2019

Image
Yap. Kali ini gue akan coba menulis resensi film lagi yang berjudul Ali & Nino. Film ini gue tonton saat pemutaran film-film pada festival Europe on Screen 2019 bulan April lalu. Seperti yang pernah gue jelas sebelumnya, rangkaian festival ini diadakan ditiap-tiap pusat kebudayaan negara-negara eropa yang tersebar di Jakarta dalam rangka peringatan Europe Day pada tanggal 9 Mei. Tapi mungkin berhubung tahun ini tanggal 6 Mei sudah masuk bulan suci Ramadhan, jadi pelaksanaan festival ini dimajukan tanggal 18 April - 31 Mei. Tanggal 19 Mei 2019 tepatnya 2 hari setelah Pemilu Naional & Pemilu Presiden gue dateng ke acara ini. Saking niatnya, jauh-jauh hari sebelum mau nonton, gue udah ngelist film-film yang bakal tayang di hari sabtu, minggu dan hari libur yang sekiranya bisa gue tonton beserta ratingnya di IMDB. Maklum, sehari-hari kerja di kawasan pabrk yang jaraknya sekitar 30-40 km dari Jakarta. Jadi ga bakal bisa nonton kalo hari kerja. Selesai Sholat Jumat, akhirnya gue...

Satu Malam di Museum Bahari Jakarta ex. Gudang Rempah-Rempah VOC

Image
Ya menginap di museum tepatnya Museum Bahari adalah pengalaman pertama gue bareng Komunitas Historia Indonesia (KHI) pada hari   Sabtu tanggal 27 April 2019. Acara ini pertama kali diadakan pada tahun 2009 dan menurut sumber informasi, KHI adalah yang pertama mengadakan acara menginap di Museum seperti ini. Museum Louvre di Paris, Perancis & American Museum of Natural History di New York, Amerika baru mengadakan acara ini sekitar tahun 2010-2012 Ya, Indonesia menjadi yang pertama di dunia untuk acara ini! Berawal dari teman di kantor lama yang melihat gue nge-like post instagram KHI tentang acara ini beberapa hari sebelumnya, akhirnya temen gue ngajakin dan akhirnya gue terpaksa ikut karena sebenernya agak takut-takut. Bagi peserta yang ingin ikut dikenakan biaya sebesar 125 ribu rupiah. Biaya tersebut sudah termasuk biaya masuk museum, kebersihan, makan malam dengan 2 menu utama, snack dan lain-lain. Hari yang ditunggu pun tiba. Sekitar jam 6 sore, gue tiba di daerah ...

‘Timnas Yugoslavia’

         Ok selanjutnya gue akan langsung nulis tulisan kedua di hari yang sama ini mumpung mood dan waktu menulis ini lagi bagus haha. Sebenernya tulisan ini mau gue tulis sekitar pertengahan Juli lalu ga lama setelah Final Piala Dunia 2018 antara Perancis vs Kroasia. Ada yang tau kenapa? Ya, betul karena salah satu finalisnya adalah Kroasia, salah satu negara di Kawasan Balkan eropa Tenggara ex-Yugoslavia. Tulisan ini mencoba mengulas dari sisi pandang antropologi (meskipun gue bukan antropolog), sosial budaya dan mengambil pelajaran-pelajaran penting dari hal tersebut.        Well, Ok kita mulai. Kroasia pada edisi Piala Dunia di Rusia tahun ini berhasil mencatatkan sejarah menjadi finalis untuk pertama kalinya. Bahkan melebihi prestasi Golden Age era Slaven Bilic pendahulu mereka yang berhasil merebut tempat ketiga pada Piala Dunia tahun 1998 di Perancis. Bisa dikatakan, Kroasia merupakan negara pecahan Yugo...